Wednesday, June 3, 2009

Menanggapi Kasus Ibu Prita Mulyasari

Kasus Manohara selesai, merebak kasus mengenai Ibu Prita Mulyasari, seorang facebooker sekaligus ibu rumah tangga dari 2 orang anak yang masih balita.
Sederhana sekali, Ibu Prita hanyalah seorang konsumen dari sebuah Rumah Sakit Internasional (yang tidak perlu saya sebut namanya, nanti saya masuk penjara juga =p), yang merasa tidak puas akan pelayanan rumah sakit tersebut.
Sampai sini, masih sangat wajar bukan ?
Bukankah di berbagai surat pembaca yang ada di media surat kabar, juga banyak keluhan-keluhan mengenai ketidakpuasan konsumen terhadap produk/jasa yang mereka gunakan ?
Dan bukankah negara ini juga memiliki UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, yang memberikan hak kepada konsumen untuk menyampaikan keluhannya ?

Yang mengangetkan, Ibu Prita ini malah digugat ke penjara hanya karena ia dituduh mencemarkan nama baik dari RS tersebut.
Bermodalkan Pasal 310 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) dan Pasal 27 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), pihak RS berhasil memasukkan Ibu Prita ini ke dalam penjara (hingga saat ini, kurang lebih sudah 3 minggu ia berada di bui). Ancaman pidana Pasal 27 Ayat 3 UU ITE itu tidak main-main. Ibu rumah tangga penulis e-mail itu diancam penjara hingga enam tahun.

Saya sangat tertarik akan kasus ini, karena saya melihat respon yang beragam dari berbagai kalangan mengenai hal ini.

1. Tanggapan pemerintah
Dulu ketika kasus Manoharamerebak, pemerintah segera mengambil langkah cepat terkait dengan masalah tersebut. Padahal di saat yang sama, saya bertanya-tanya "kemana aja Pak selama ini ?? Bukannya dari dulu TKI kita juga udah sering disiksa, koq giliran si Jelita yang disiksa, situ ribut ?? Giliran si Jelata yang terseok-seok, seolah-olah gak ada yang peduli. Ya, kurang lebih sama saja dengan tanggapan terhadap kasus Ibu Prita ini.
Sisi positifnya : Mungkin pemerintah disibukkan sama hal-hal yang lain yang lebih penting, seperti : berkampanye untuk mempertahankan pemerintahan =p

2. Tanggapan para Capres
Seperti yang kita tahu, per 2 Juni kemarin, para Capres diperbolehkan melakukan kampanye. Kasus Prita ini dijadikan sebagai sasaran mereka untuk berlomba-lomba menarik perhatian masyarakat. Saya berharap bapak-bapak dan ibu capres memiliki motif positif dalam membantu Ibu Prita dan jangan sampai, membantu Ibu Prita hanya karena ingin masyarakat berkata "Wah..baik ya Bapak/Ibu ini, pilih dia ah ntarr.."
Sisi positifnya : Lumayan Ibu Prita, paling tidak ada pihak yang berkenan membantu Ibu. Untung juga kasus ini terjadi di saat kampanye capres ya =p

3. Tanggapan Facebookers
Persaudaraan bisa dijalin dimana saja, termasuk di dunia maya. Begitu kasus ini merebak, langsung muncul halaman dukungan untuk ibu Prita yang isinya mulai dari dukungan, tanggapan hingga hinaan (tentunya ditujukan kepada pihak RS). Untuk lebih jelasnya, silahkan langsung saja lihat halaman tanggapan tersebut di link :

Sisi positif : Untuk pihak yang mau mengharamkan Facebook, coba lihatlah ini, betapa indahnya persaudaraan yang dapat dijalin di Facebook. Dari tidak kenal menjadi kenal, bahkan peribahasa "tak kenal maka tak sayang" pun tidak berlaku disini. Orang-orang yang tidak kenal Ibu Prita saja, bisa memberikan dukungan kepada Beliau.

4. Tanggapan Pihak Rumah Sakit
(no comment) - daripada ntar dipenjara =)
Tapi melihat dari gugatan yang dilayangkan kepada Ibu Prita oleh pihak RS, saya rasa anda-anda semua sudah dapat menebak tanggapan pihak RS Internasional ini.


Sedangkan tanggapan saya pribadi :
saya bukan orang yang mengenal Ibu Prita, apalagi Ibu Prita sendiri juga pasti tidak kenal saya.
Tapi mengapa saya sampai membuat tulisan ini di blog saya ?
Saya hanya prihatin dengan keadaan bangsa yang sangat saya cintai ini.
Seorang teman dari Singapura mengatakan kepada saya bahwa dosennya yang notabene orang Singapura asli (kebetulan ia mahasiswa S2 disana), mengatakan bahwa Indonesia 30 tahun ke depan seharusnya bisa menjadi negara super power yang menguasai kawasan Asia, terutama untuk Asia Tenggara. Dengan sumber daya alam yang luar biasa melimpah dan juga orang-orangnya yang pintar-pintar (terbukti dari beberapa kali memenangkan medali olimpiade ilmiah), seharusnya negara-negara yang dianggap hebat sekarang, seperti China dan Singapura, akan takluk terhadap Indonesia.
Tapi, jika melihat keadaan yang seperti ini, saya menjadi sedikit ragu akan hal tersebut.
Bermula dari kesalahan dokter dalam mendiagnosa Ibu Prita, mengapa hal ini bsia terjadi ?
Apakah salah jika kemudian masyarakat meragukan dokter-dokter yang ada sekarang dan bahkan memilih untuk berobat ke pengobatan yang dikatakan tidak masuk akal seperti Ponari ?
Apakah hal ini merupakan akibat dari banyaknya calon dokter yang masuk ke perguruan tinggi ilmu kedokteran dengan cara membayar sejumlah uang tertentu ?

Jika ditanya, mengapa orang-orang yang membayar tersebut bisa diterima ?
Mungkin, jawaban bahwa pihak perguruan tinggi sendiri membutuhkan uang dapat diterima.

Lalu, mengapa pihak perguruan tinggi sendiri harus sampai mencari uang dengan cara seperti itu ?
Kepada siapakah seharusnya mereka meminta bantuan uang ?

Pertanyaan terakhir tersebut tidak perlu dijawab, biarlah ini menjadi "PR" bagi pemerintah yang mendatang untuk dapat membuat perkataan dosen teman saya diatas menjadi kenyataan.
Sebagai tambahan, si dosen tersebut bahkan mempersiapkan anaknya untuk dapat berbahasa Indonesia untuk dapat mengantisipasi keadaan dimana Indonesia akan menjadi negara super, dan tentunya bahasa Indonesia menjadi bahasa yang wajib untuk dipelajari (sama halnya dengan bahasa Inggris atau mandarin sekarang)..

mmm.... saya yakin, warga Indonesia juga menginginkan hal tersebut terjadi.


Jika ada kesalahan dalam perkataan dan ada pihak-pihak yang kurang setuju akan pendapat saya, mohon maaf yang sebesar-besarnya.

--------------------------------------------------------
I'm the main actress in this drama called LIFE

 
design by suckmylolly.com