Perjalan pagi hari di pasar Sukawati, diawali dengan mampir ke sebuah toko yang menjual kemeja bali bunga-bunga.
Padagang nya begitu ramah, bahkan sangat ramah.
Dia bahkan bersedia membuka satu per satu kemeja yang dijualnya, sehingga saya bisa memilih kemeja dengan motif terbaik.
Tiba-tiba tercetus sebuah pertanyaan itu :
"kamu cina ya ?"
.....
Siang itu, saya sangat antusias datang ke acara teman SMA saya.
Sebuah acara adat yang wajib diakan oleh masyarakat asli Bali.
Baru saja saya melangkahkan kaki saya masuk ke rumah teman saya, tiba-tiba seorang ibu yang menggunakan baju adat Bali bertanya sambil memandang ke arah saya dengan cara pandang yang kurang mengenakkan, seolah saya adalah makhluk asing yang baru turun dari planet antah berantah :
"Cina ya ??"
.....
Mengingat jaman SMA.
Pertama kali saya masuk ke kelas saya yang baru, beberapa orang segera mendatangi kelas saya dan memandang saya dari jendela kelas, seolah-olah saya adalah hewan tontonan di kebun binatang, sambil berbisik-bisik :
"Itu cina ya ?"
.....
Masih di jaman SMA.
Ketika membaca nama lengkap saya :
Luh Sandra Adishesa.
Ada nama khas Bali terselip di awal nama saya, mungkin hal itu yang menyebabkan seorang guru bertanya pada saya dengan memasang wajah yang seolah-olah saya ini orang yang sangat kotor :
"Namanya Bali, tapi koq sipit sih.. Kamu sebenarnya Cina ya ?"
.....
Beberapa cerita diatas merupakan salah satu bentuk diskriminasi yang saya alami sebagai orang yang memiliki wajah oriental (walaupun sebenarnya wajah saya tidak oriental-oriental banget).
Sejujurnya, saya sudah terbiasa dengan pertanyaan tersebut.
Hanya saja, sampai detik ini saya masih sering berpikir :
"Apa sih yang salah dengan Cina ?"
Sebenarnya, saya sendiri tidak 100% cina.
Mungkin dapat dikatakan saya adalah anggota IBC = Indonesia Born Chinesse.
Alias WNI keturunan.
Namun, kalau mau ditelusuri lebih mendalam lagi, darah Cina yang terkandung dalam diri saya sendiri juga mungkin hanya 25%.
Terlahir dari gabungan ayah seorang Bali asli dan ibu Cina-Jawa, menyebabkan wajah saya menjadi tidak seoriental kamu IBC lainnya (mungkin).
Anugerah kulit putih dan mata sipit yang Tuhan beri, menyebabkan saya menjadi terlihat seperti orang yang sangat IBC (IBC banget deh =p)
Kadang saya berpikir,
"itu kan ada orang campuran Indonesia - Inggris, koq gak pernah sih dia ditanya "Inggris ya ?""
Ada juga teman saya, seorang campuran Indonesia - Jepang, lagi-lagi dia tidak pernah diperlakukan berbeda dan mendapatkan pandangan aneh dari orang-orang di sekitarnya, apalagi menerima pertanyaan :
"Jepang ya ??"
Masalahnya, bukan pertanyaan itu yang menganggu saya, tapi perbedaan perilaku yang diberlakukan kepada orang-orang seperti saya.
Dapat dilihat pada salah satu cerita diatas, seorang guru SMA pun memandang aneh kepada saya sambil mempermasalahkan muka saya yang oriental.
Dan sayangnya, bukan hanya mempermasalahkan muka saya saja, saya juga mendapatkan perilaku yang berbeda darinya dalam proses belajar di sekolah.
Jangn harap dia akan bersikap baik pada saya, dia tidak menjawab pertanyaan saya dengan ketus saja, sudah membuat saya cukup bersyukur.
Sudah untung juga, dia tidak memotong nilai saya banyak-banyak tanpa alasan yang tidak jelas, sperti yang dia lakukan selama ini.
Masih sewaktu SMA, saya berpikir, kenapa ya teman saya yang tidak pernah masuk kelas, bisa mendapatkan nilai Fisika lebih tinggi daripada saya yang mampu menjawab soal-soal di buku pelajaran dan selalu emndaptkan nilai ujian fisika diatas 80.
Saya tidak mengajukan pertanyaan tersebut kepada siapapun, namun saya menemukan jawabannya sendiri :
"Oia, ya, saya kan CINA. Teman saya kan INDONESIA."
Saya tidak heran kenapa masalah RAS sangat mudah menjadi penyebab peperangan di Indonesia.
Saya juga tidak heran kalau beberpaa tahun ke depan, bahkan mungkin berpuluh-puluh tahun ke depan, diskriminasi akan tetep ada di Indonesia.
Kenapa tidak ?
Seorang guru yang seharusnya menjadi panutan saja, juga melakukan hal diskriminasi tersebut.
Yang bisa saya harapkan hanya satu :
Semoga suatu saat nanti, saya bisa dengan bangga mengatakan "saya orang Indonesia", tanap dipandang sebagai seorang yang sok nasionalis atau lebih parahnya, dipandang sebagai seorang yang mengada-ada, dan malah membuat orang berpikir :
"Cina koq ngaku Indonesia"
--------------------------------------------------------
I'm the main actress in this drama called LIFE