"Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat"
Mid test yang membuat saya jadi stress mengingatkan saya akan pepatah diatas.
Karena tidak mau punya jiwa yang tidak sehat (a.k.a GILA), saya berinisiatif untuk mengajak 2 orang teman saya untuk berenang di hari minggu pagi nan cerah..hehhe..
Singat cerita, pukul 06.30 kami berangkat dengan menggunakan 2 sepeda motor, dan saya berperan sebagai orang yang dibonceng (secara itu bukan sepeda motor saya).
Jujur saja, rasa malas benar-benar menggoda untuk membatalkan rencaan berenang ini.
Tapi, kalo mengingat tingkat orang gila di Indonesia yang semakin meningkat dari hari ke hari, tiba-tiba rasa malas itu hilang.
Kami melewati jalan yang saya tahu (karena kedua teman saya tidak tahu jalan) menuju kolam renang.
Eh.........
tiba-tiba ada palang bertuliskan.
--------------------------------------------------
"Dilarang melewati jalan ini. Ada Kegiatan"
--------------------------------------------------
Saya mengangkat leher saya sambil bergumam "acara apa sih sampe nutup jalan umum segala ?".
Mungkin kalo acara kerja bakti, ya saya masih bisa maklum lah, tapi koq pake ditutup ya jalannya ??
Sampai teman saya beranjak turun dari sepeda motornya dan berjalan ke arah acara tersebut. Sekembalinya ia dari mencari informasi, dia berkata :
"Terobos aja, cuma mau nyiapin kawinan. Masak jalan umum dibuat kawinan."
Akhirnya, karena teman saya berkata demikian, kita terobos aja itu palang.
Ternyata acara nya juga belum mulai, dan orang-orang di sekitar sana malah lagi duduk-duduk sambil ngeliatin kursi plastik (kursi untuk tamu) yang masih ditumpuk.
Kalo gitu, kenapa mereka tutup jalannya ??
Kan menganggu orang yang mau lewat.
Lagian itu juga bukan jalan mereka.
Saya berusaha sabar untuk tidak berkata apapun walaupun orang-orang yang sedang dudk tersebut melihat ke arah saya dan teman-teman saya dengan pandangan yang kurang enak.
Ya positive thinking aja, "Emang gw cantik om..makasih udah diliatin..hehehe"
Tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang nyeletuk :
"Nduk..nduk (panggilan untuk anak perempuan di Jawa), wong wes ditulisi ndak oleh lewat koq ya ngotot ae lewat..huh"
Bahasa "Inggris" tersebut memiliki arti :
"Non..non, sudah ditulisi gak boleh lewat koq tetep aja lewat"
Wah, tu ibu-ibu memancing emosi kita-kita nih.
Cuma karena saya ingin memiliki jiwa yang sehat, saya anggap aja si ibu yang memiliki jiwa tidak sehat.
Saya pun menanggapi kata-kata ibu tersebut dengan kalimat :
"ya saya pikir ini jalan umum bu..soalnya saya belum liat papan yang ditulisin kalo jalan ini punya nya ibu."
Untung saja teman saya segera memacu kecepatan motornya, sehingga kita tidak dikejer-kejer warga (kayak di tipi-tipi itu lho).
Memang sih, di Indonesia sendiri, kebiasaan menggunakan jalan umum memamg seperti sudah jadi kebiasaan. Saya sendiri kurang tahu, sebenarnya ada hukum atau tidak yang mengatur soal ini.
Tapi, koq kayaknya kalo ada RUU yang mengatur tentang hal ini, bisa-bisa bernasib sama dengan RUU pornografi ya..
Kebayang nanti headline di koran-koran isinya :
--------------------------------------------------------------------
RUU Jalan Umum melanggar hak masyarakat untuk kawinan di depan umum
--------------------------------------------------------------------
Nah lo...??? Hehehe..
Ya, mungkin kesadaran masing-masing aja deh.
Itu jalan kan kita bangun sama-sama pake pajak yang kita bayarin.
Mbok ya dipake sama-sama juga.
Jangan dimonopoli gitu yah..
Tapi saya jadi bertanya lagi, kalo nunggun kesadaran masyarakat, kapan ya jalan umum benar-benar tidak akan dipakai untuk kepentingan pribadi lagi ??
Monday, October 13, 2008
RUU Jalan Umum
Posted by Sandra Adishesa at 12:24 AM
Labels: Experience